KETIKA “MENGHAKIMI” HANYA BERLAKU DARI BAWAH KE ATAS

 


KETIKA “MENGHAKIMI” HANYA BERLAKU DARI BAWAH KE ATAS

Ketika jemaat membahas pendeta, disebut menghakimi.
Ketika pendeta membahas pendeta, disebut menghakimi.
Tetapi ketika pendeta membahas jemaat, disebut menyampaikan kebenaran.

Lalu pertanyaannya: Apakah kebenaran memiliki standar yang berbeda tergantung siapa yang mengucapkannya?

Ini bukan persoalan siapa yang boleh berbicara tentang siapa. Ini persoalan konsistensi, kerendahan hati, dan keberanian untuk tunduk pada kebenaran yang sama.

Jika pendeta memiliki tanggung jawab untuk menegur jemaat berdasarkan Firman Tuhan, maka pendeta juga harus memiliki kerendahan hati untuk menerima teguran ketika dirinya dikoreksi—bahkan ketika teguran itu datang dari jemaat.

Jangan menjadikan kata “menghakimi” sebagai tameng untuk menolak setiap kritik. Tidak setiap kritik adalah penghakiman. Sebaliknya, tidak setiap teguran yang disampaikan dari mimbar otomatis merupakan kebenaran hanya karena yang menyampaikannya adalah seorang pendeta.

Pendeta bukan manusia yang kebal terhadap evaluasi.
Mimbar bukan singgasana.
Jabatan rohani bukan kekebalan moral.
Gelar teologis bukan jaminan bahwa setiap perkataan pasti benar.

Jangan hanya meminta jemaat bercermin di hadapan Firman Tuhan. Pendeta pun harus berani berdiri di depan cermin yang sama.

Sebab kebenaran tidak takut diuji.

Dan pendeta yang sungguh-sungguh tunduk kepada Tuhan tidak akan takut dikoreksi, karena ia tahu bahwa yang harus dibela bukan harga dirinya, melainkan kebenaran.

Kalau jemaat harus rendah hati ketika ditegur, pendeta pun harus rendah hati ketika ditegur.

Kalau jemaat dituntut menerima koreksi, pemimpin rohani pun harus bersedia menerima koreksi.

Sebab di hadapan Tuhan, tidak ada jabatan yang membuat seseorang lebih tinggi daripada kebenaran.

Semakin besar otoritas rohani yang dipercayakan Tuhan, semakin besar pula tanggung jawab untuk hidup dalam kerendahan hati.

“Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”
— Matius 7:1

Ayat ini bukan hanya untuk jemaat. Ini juga cermin bagi setiap pemimpin rohani.

Itulah kejujuran rohani: berani menyampaikan kebenaran, tetapi juga berani menerima kebenaran ketika kebenaran itu diarahkan kepada diri sendiri.

Tuhan memberkati kita,
Loran Napitupulu

Medan, 21 Ags 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNTUK DIRIKU... DAN UNTUK SETIAP SUAMI/AYAH DI LUAR SANA

allah PALSU SAJA ADA, APALAGI nabi/pendeta PALSU...

AIR YANG DIKEPUNGKAN, TETAPI DITARIK OLEH TANGAN TUHAN