AIR YANG DIKEPUNGKAN, TETAPI DITARIK OLEH TANGAN TUHAN

 






AIR YANG DIKEPUNGKAN, TETAPI DITARIK OLEH TANGAN TUHAN

Sebuah Kesaksian Tentang Doa, Air Mata, dan Mukjizat Tuhan

Sepanjang bulan November 2025, hujan deras mengguyur Kota Medan. Hujan turun begitu lebat dan terus-menerus hingga membuat banyak wilayah mulai terendam banjir.

Namun, ada satu hari yang sampai hari ini tidak akan pernah saya lupakan.

Kamis, 27 November 2025.

Saat itu saya sedang bekerja di Kisaran. Pagi itu saya mendapat kabar dari istri dan anak-anak bahwa hujan deras telah turun sejak malam hingga pagi hari di Medan. Air mulai naik.

Sebagai seorang suami dan ayah yang berada jauh dari rumah, hati saya langsung tidak tenang.

Saya tidak bisa berada di sana untuk melihat keadaan keluarga saya secara langsung. Saya hanya bisa menelepon.

Setiap jam saya menelepon keluarga.
Dan setiap jam pula saya berdoa.

Saya memohon kepada Tuhan:

“Bapa, kiranya Engkau mendengar doa kami. Tolong jangan biarkan air masuk ke rumah kami.”

Semakin waktu berjalan, kabar yang saya terima semakin membuat hati saya hancur.

Medan mulai lumpuh karena banjir.

Rumah beberapa teman sudah dimasuki air. Bahkan tetangga kami, air sudah mencapai setinggi pintu rumah mereka.

Saya hanya bisa membayangkan bagaimana keadaan istri dan anak-anak saya di rumah.

Jujur, saat itu saya takut.

Bukan hanya takut kehilangan barang-barang, tetapi saya takut terhadap keselamatan keluarga saya.


“Tinggal 5 Cm Lagi, Air Akan Masuk Rumah.”

Sampai sekitar pukul 17.30 WIB, saya menerima kabar sekaligus video dari keluarga.

Air sudah mengepung rumah kami.

Air sudah masuk ke halaman depan dan halaman belakang.

Dan yang membuat hati saya semakin berdebar:

tinggal sekitar 5 cm lagi air akan masuk ke dalam rumah.

Saya segera meminta keluarga untuk bersiap.

Barang-barang elektronik dinaikkan.

Pakaian diamankan.

Dokumen-dokumen penting dikumpulkan.

Pakaian sehari-hari dimasukkan ke dalam koper, supaya kalau sewaktu-waktu air benar-benar masuk, mereka bisa segera menyelamatkan diri dan membawa barang-barang yang penting.

Dalam keadaan seperti itu, saya sadar bahwa manusia benar-benar tidak berdaya.

Kita bisa memiliki rumah yang kokoh.

Kita bisa memiliki barang-barang yang berharga.

Kita bisa membuat berbagai persiapan.

Tetapi ketika air terus naik dan tidak ada lagi yang dapat kita lakukan...

kita hanya bisa berserah kepada Tuhan.


Lalu Saya Mencari Tempat untuk Berdoa

Sore itu saya mencari sebuah toilet.

Saya masuk.

Saya bertelut.

Saya menangis.

Dan saya berdoa kepada Tuhan.

Saya teringat kebiasaan saya setiap hari ketika berdoa di rumah.

Saya sering berkata kepada Tuhan:

“Bapa, singgahlah ke rumah kami.
Biarlah malaikat-Mu naik dan turun di rumah kami.
Jadikanlah rumah kami tempat di mana nama-Mu dimuliakan.”

Tetapi sore itu doa saya berubah.

Dengan air mata yang mengalir, saya berkata:

“Bapa... air sudah masuk ke halaman rumah-Mu.”

“Sedikit lagi air ini akan masuk ke dalam rumah-Mu.”

“Bapa, kalau Engkau berkenan, tariklah air ini.”

Saya tidak tahu harus berkata apa lagi.

Saya hanya menangis.

Saya hanya bisa memohon.

Dan di tengah doa itu saya berkata:

“Bapa, saya percaya Engkau berkuasa.
Tetapi apapun yang akan terjadi, biarlah nama-Mu tetap dipermuliakan.
Tidak ada yang salah dalam kejadian ini.
Apapun kehendak-Mu, terpujilah nama-Mu.”

Itulah doa seorang manusia yang sudah tidak punya kekuatan lagi.

Tidak ada lagi yang bisa saya andalkan selain Tuhan.


Malam Itu Saya Hanya Bisa Menunggu

Sekitar pukul 21.00 WIB, saya sudah tiba di hotel di Batu Bara.

Hal pertama yang saya lakukan adalah menelepon keluarga.

Saya bertanya:

“Bagaimana keadaan hujan? Bagaimana airnya?”

Mereka menjawab:

“Hujan masih turun.”

Saya semakin gelisah.

Karena dalam pikiran saya:

Kalau hujan masih turun, seharusnya air semakin naik.

Tetapi saya hanya bisa berkata dalam hati:

“Tuhan, saya sudah menyerahkan semuanya kepada-Mu.”

Malam itu saya tidur dengan hati yang terus berdoa.


Jumat Pagi, 28 November 2025

Pagi-pagi sekitar pukul 07.00 WIB, saya kembali menelepon istri.

Saya bertanya lagi:

“Bagaimana rumah? Bagaimana airnya?”

Dan jawaban yang saya dengar membuat hati saya bergetar:

“Puji Tuhan... airnya sudah tidak ada lagi di halaman depan dan belakang.”

Saya terdiam.

Saya bertanya lagi:

“Tapi bukankah hujan masih turun?”

Istri saya menjawab bahwa hujan memang masih turun sejak malam sampai pagi. Cuaca masih mendung.

Tetapi...

air justru semakin surut.

Tidak hanya surut.

Air itu seperti ditarik pergi.

Dan yang lebih membuat kami terheran-heran...

tidak ada bekas banjir dan lumpur yang berarti di sekitar rumah.

Padahal sehari sebelumnya air sudah mengepung rumah.

Tinggal sekitar 5 cm lagi air akan masuk.

Hujan masih turun.

Tetapi air tidak masuk.

Air justru surut.

Di situlah saya kembali menangis.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena saya menyadari:

Saya sedang melihat pertolongan Tuhan.


AIR ITU DITARIK OLEH BAPA

Saya tidak bisa menjelaskan semuanya dengan kemampuan manusia.

Saya hanya tahu apa yang saya lihat.

Air sudah mengepung.

Hujan masih turun.

Tetapi air semakin surut.

Dan dalam iman saya, saya percaya:

Bapa saya telah menarik air itu kembali ke laut.

Saat mengingat semuanya, saya kembali menjadi cengeng.

Air mata saya kembali jatuh.

Saya membayangkan kembali sore itu.

Rumah yang dikepung air.

Keluarga yang bersiap menyelamatkan barang.

Saya yang berada jauh dari rumah.

Saya yang bertelut di toilet dan menangis.

Saya yang berkata:

“Bapa, air sudah masuk ke halaman rumah-Mu...”

Dan kemudian Tuhan menjawab dengan cara-Nya sendiri.

Bukan dengan menghentikan hujan.

Tetapi dengan membuat air surut di tengah hujan.

Bagi saya...

Itulah mukjizat.


“APABILA ENGKAU MENYEBERANG MELALUI AIR...”

Ada satu ayat yang semakin dalam maknanya bagi saya setelah mengalami semua ini.

Yesaya 43:2 (TB):

“Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan...”

Dulu saya membaca ayat ini sebagai sebuah firman.

Tetapi pada hari itu saya seperti mengalami sendiri bagaimana Tuhan menyertai ketika air mengepung kehidupan kami.

Tuhan tidak selalu membuat kita bebas dari badai.

Tuhan tidak selalu menghentikan hujan.

Tetapi ketika kita melewati air dan sungai kehidupan...

Tuhan berjanji: Aku akan menyertai engkau.


TERIMA KASIH, BAPA

Melalui kesaksian ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada:

Orang tua, adik, sahabat-sahabat, dan para hamba Tuhan yang telah mendoakan kami dan terus menanyakan keadaan keluarga kami pada saat itu.

Setiap telepon.

Setiap pesan.

Setiap doa.

Bagi kami semuanya sangat berarti.

Dan kepada Bapa di Surga...

Terima kasih.

Terima kasih karena ketika kami melihat air sebagai ancaman,
Engkau melihat jalan keluar.

Ketika kami melihat rumah yang hampir dimasuki air,
Engkau melihat rumah yang masih berada dalam penjagaan-Mu.

Ketika kami merasa tidak berdaya,
Engkau menunjukkan bahwa kuasa-Mu tidak pernah terbatas.


Tuhan Kita Masih Berkuasa

Kesaksian ini bukan untuk membanggakan diri.

Bukan juga untuk mengatakan bahwa kita tidak akan pernah mengalami kesulitan.

Tetapi saya ingin bersaksi kepada siapa pun yang membaca ini:

Jangan pernah berhenti berdoa.

Mungkin hari ini hidup Anda sedang seperti rumah kami waktu itu.

Air sedang naik.

Masalah sedang mengepung.

Jalan keluar belum terlihat.

Anda sudah melakukan semua yang bisa dilakukan.

Dan sekarang Anda hanya bisa menangis dan berdoa.

Tetaplah percaya.

Sebab Tuhan yang kami sembah adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu.

Tuhan berkuasa atas rumah kita.

Tuhan berkuasa atas keluarga kita.

Tuhan berkuasa atas keadaan yang tidak dapat kita kendalikan.

Dan ketika kita sudah tidak tahu harus berbuat apa...

Tuhan masih tahu apa yang harus Dia lakukan.

Saya bersaksi:

Tuhan itu hebat.

Tuhan itu sangat hebat.

Bapa kami masih berkuasa.

Air yang sudah mengepung rumah kami, Tuhan tarik kembali.

Hujan masih turun, tetapi air surut.

Dan kami hanya dapat berkata:

PUJI TUHAN! HALLELUYA!

Terpujilah nama Tuhan untuk selama-lamanya.

Amin.


#TUHANMAHABESAR

#BAPAHEBAT

#WELOVEYOU

#TUHANTIDAKPERNAHMENINGGALKAN

Ketika aku teringat waktu itu - Medan, 18 Sept 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UNTUK DIRIKU... DAN UNTUK SETIAP SUAMI/AYAH DI LUAR SANA

allah PALSU SAJA ADA, APALAGI nabi/pendeta PALSU...