Kesaksianku: "Aku Tidak Takut Berdiri di Pihak Kebenaran!
Kesaksian: Aku Tidak Takut Berdiri di Pihak Kebenaran
Banyak orang bertanya mengapa aku terkadang terlihat begitu tegas, bahkan keras. Mereka melihat keberanianku berbicara, tetapi tidak selalu melihat luka yang kurasakan ketika kebenaran diputarbalikkan dan orang-orang yang lemah diperlakukan dengan tidak adil.
Aku bukanlah orang yang senang mencari musuh. Aku bukan pula orang yang menikmati pertengkaran. Namun ada satu hal yang sulit aku terima, yaitu ketika kebenaran Tuhan dipermainkan, kejujuran diinjak-injak, dan orang-orang yang tidak bersalah dijadikan korban.
Hatiku tidak bisa diam.
Aku percaya bahwa Tuhan memanggil setiap orang percaya bukan hanya untuk hidup benar, tetapi juga berani membela yang benar.
"Belalah hak orang yang lemah dan yatim, tegakkanlah keadilan bagi orang yang tertindas dan miskin."
Mazmur 82:3
Selama hidupku, aku telah mengambil satu keputusan: lebih baik kehilangan jabatan daripada kehilangan integritas; lebih baik dibenci manusia daripada mengecewakan Tuhan.
Aku sadar bahwa keberanian selalu ada harganya. Berbicara benar sering kali membuat kita disalahpahami. Membela orang yang tertindas sering membuat kita ikut diserang. Namun aku percaya bahwa kebenaran tidak membutuhkan mayoritas; kebenaran hanya membutuhkan orang-orang yang berani berdiri di sisinya.
Firman Tuhan berkata:
"Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk membela hak semua orang yang merana."
Amsal 31:8
Yesaya 58:1 "Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu seperti sangkakala dan beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka!"
Itulah prinsip yang kupegang. Selama Tuhan masih memberiku nafas, aku ingin memakai suaraku bukan untuk menjatuhkan orang, tetapi untuk membela mereka yang direndahkan, difitnah, diperlakukan tidak adil, dan tidak mampu membela dirinya sendiri.
Aku percaya bahwa diam terhadap ketidakadilan sering kali berarti membiarkan ketidakadilan itu terus berlangsung.
Namun aku juga menyadari bahwa sebagai manusia, aku harus terus belajar agar ketegasan tidak berubah menjadi kebencian. Aku berdoa agar setiap keberanianku selalu dipimpin oleh kasih, hikmat, dan kerendahan hati.
"Tetapi hendaklah kamu berkata benar seorang kepada yang lain."
Zakharia 8:16
Dan:
"Tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih..."
Efesus 4:15
Aku menyadari bahwa sebagai manusia aku tidak sempurna. Karena itu aku terus belajar agar setiap perkataanku tetap dikendalikan oleh kasih Kristus. Namun aku juga percaya bahwa kasih kepada Tuhan tidak berarti kita harus diam ketika kebenaran diselewengkan.
Tuhan Yesus sendiri adalah kasih. Tetapi Dia juga pernah menunjukkan kemarahan yang kudus ketika Bait Allah dijadikan tempat mencari keuntungan.
"Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati."
(Matius 21:12)
Yesus tidak marah karena kepentingan pribadi-Nya, tetapi karena rumah Bapa-Nya dinodai. Dari peristiwa itu aku belajar bahwa ada saatnya orang percaya harus berdiri membela kebenaran, tentu dengan hati yang tetap takut akan Tuhan.
Aku ingin menjadi pribadi yang dikenal bukan karena kemarahanku, tetapi karena keberanianku membela kebenaran, kesetiaanku menjaga integritas, dan kerelaanku berdiri di samping mereka yang diperlakukan tidak adil.
Bila suatu hari aku harus memilih antara kenyamanan dan kebenaran, maka aku memilih kebenaran. Bila aku harus memilih antara popularitas dan integritas, maka aku memilih integritas. Sebab aku percaya bahwa lebih baik berjalan bersama Tuhan dalam kebenaran daripada berjalan bersama dunia dalam kompromi.
Kiranya hidupku menjadi saksi bahwa kebenaran memang memiliki harga, tetapi tidak ada harga yang terlalu mahal untuk mempertahankan apa yang benar di hadapan Tuhan. Tuhan memberiku kekuatan bukan untuk meninggikan diriku, melainkan untuk setia membela kebenaran, mengasihi sesama, dan menjadi suara bagi mereka yang tidak mampu bersuara.
Kiranya Tuhan menolong kita semua untuk menjadi pribadi yang lemah lembut dalam sikap, tetapi tidak pernah lemah terhadap kebenaran, sehingga dalam segala hal nama Tuhan senantiasa dimuliakan. Haleluya. Amin.
Loran Napitupulu - Medan, 7 Agustus 2026

Komentar
Posting Komentar